Hujan rintik-rintik menyambut kami yang baru saja menapakkan kaki di
tanah coklat pinggir lapangan, seberang pasar dusun NdakBong. Setelah
kurang lebih 2,5 jam yang lalu beranjak dari jogja. Mulai melangkah
meniti jalan desa yang basah, untung sebagian sudah dikeraskan sehingga
beceknya tidak terasa, hanya sedikit licin jika kita berjalan tanpa alas
kaki. Hujan semakin deras ketika kami sampai diperkampungan terluar
menuju pantai, berteduh sejenak dirumah penduduk, silaturahmi dengan
keluarga yang pernah menjadi malaikat pada perjalanan kami sebelumnya.
Bertanya kabar, menikmati teh dan obrolan yang tak kalah hangat, tak
terasa hujanpun mereda, meninggalkan tanah yang semakin basah dan
semakin licin. Jalan berbatu mengiring langkah kami menuju tujuan yang
pertama, Pantai Timang.
Sebuah pantai selatan dideretan timur Gunungkidul, berupa teluk
kecil, pasirnya tidak putih, tidak juga hitam, cenderung coklat
kemerahan. Masih sangat asri, bersih dan sunyi. disisi timur berdiri
kokoh bukit karang yang menjorok kelaut, sementara di sisi barat dan
utara dikelilingi tumbuhan pandan yang berduri tajam. Hanya ada jalan
kecil disebelah barat, itupun harus merunduk dengan sangat hati-hati
untuk melewatinya jika tidak ingin kulit kita tergores oleh duri-duri
pandan. Menikmati debur ombak dan ricik air yang membelai pasir, tanpa
ada yang menggangu, serasa memiliki pantai sendiri.
Ada keunikan lain disini, disebelah barat pantai berpasir terbentang
sebuah kereta gantung sederhana. bukan seperti kereta gantung yang ada
di taman hiburan ditempat lain, kereta ini sangat sederhana, terbuat
dari kayu dan hanya menggunakan tampar* sebagai pengait sekaligus
lintasan kereta. Kereta ini biasa digunakan warga sekitaruntuk
menyebrang ke sebuah batu karang besar dengan jarak kurang lebih 30m
dari bibir pantai untuk sekedar memancing. Namun jika kita ingin menguji
nyali kita, kita bisa mencobanya, tentusaja harus dengan dipandu oleh
orang yang sudah biasa menggunakannya. Menurut penuturan warga setempat,
akan banyak dijumpai penyu disekitar sini, terutama saat air laut
sedang pasang.
Setelah puas menikmati kesunyian dan keindahan pantai Timang serta
sedikit makan siang, perjalananpun berlanjut. Mulai meniti jalan
setapak menuju kebarat, bukan tanpa tujuan namun kita tidak punya target
untuk perjalanan kali ini, sekiranya kaki masih kuat melangkah
perjalananpun akan terus berlanjut. mendaki bukit, menuruni bukit,
kadang memutarinya. Pemandangan yang disuguhkan sungguh menawan, tebing
curam yang langsung menghadap kelaut. Sesekali berhenti untuk menikmati
segarnya angin laut sembari menghela nafas yang ngos-ngosan.
Setelah kurang lebih 2,5 jam berjalan, sampailah kami pada sebuah
bukit yang menjorok kelaut, ada batu besar diujungnya. dari atas batu
ini kita bisa melepaskan pandangan kelaut lepas, samudera yang biru
memenuhi pandangan kita, menghadap kebarat tebing-tebing-tebing indah
terhampar, dan kearah utara sebuah pantai teluk kembali menarik
perhatian kami, benar-benar asri, tak ada seorangpun disana jejak
kakipun tak nampak berbekas dipasirnya yang lembut. Pantai dikelilingi
bukit dan tebing curam, diujung dalam nampak bekas aliran sungai kecil
yang mengering. Pantai yang indah, asri, dan sunyi tempat yang cocok
untuk menenangkan diri.
Kamipun langsung menghambur turun, berebut untuk menjadi yang pertama
menginjakkan kaki dipantai ini. Merebahkan badan dipasir putih,itulah
hal pertama yang kami lakukan .Ternyata pantai ini bukan tak
berpenghuni, ada sebuah gubuk kecil di sisi timur, ternyata milik
penduduk setempat, sekedar tempat istirahat saat lelah bekerja
dikebunnya. Dari sang pemilik gubuk inilah diketahui bahwa ini adalah
Pantai Ngetun. Pantai ngetun dijaga oleh 5 Anjing manis milik warga,
anjing ini yang menjaga gubuk saat ditingal pulang oleh sang pemilik.
Karena hari sudah mulai gelap, kamipun memutuskan untuk bermalam
disini, mendirikan tenda darurat dari mantol(bivak), memasak air yang
kami temukan disitu juga, kemudian menikmati secangkir kopi hangat ,
mengantar matahari menuju peraduannya.
Jumat, 19 Oktober 2012
Kamis, 18 Oktober 2012
Laki Berani Berkurban di Bukit Gersang
Ripungan adalah nama sebuah dusun kecil yang terletak di desa Bokoharjo,
kecamatan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terletak di
daerah perbukitan Batur Agung, Ripungan merupakan daerah tandus.
Pohon-pohon meranggas, tanpa daun, juga tanah kering retak berdebu
adalah pemandangan sehari-hari di dusun ini. Ripungan adalah dusun
terdampak kekeringan. Mata pencaharian penduduk yang sebagian besar dari
bertani dan berkebun sangat kontras dengan kondisi tanahnya yang
kering, sulit ditanami. Pada tahun 2006 ketika gempa melanda Yogyakarta,
Ripungan merupakan salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah.
Warga Ripungan bisa dibilang masih kurang tersentuh pendidikan.
Tingkat pendidikan penduduk di sini masih rendah. Lokasi tempat belajar
atau sekolah sulit dijangkau. Anak-anak harus menuruni bukit, berjalan
kiloan meter untuk bisa sampai di sekolah. Anak putus sekolah bukan hal
yang luar biasa di sini. Menikah setelah lulus sekolah tinggi juga sudah
biasa. Bukan hanya kurang dalam pendidikan formal, dalam pendidikan non
formal atau keahlian warga Ripungan juga masih rendah.
Dua tahun terakhr ini di Ripungan berdiri sebuah studio kecil tempat bermain dan belajar yang dinamakan Studio Biru. Bangunan yang awalnya hanya sebuah gubuk reot berlantai tanah bekas tempat penampungan warga yang terkena gempa, setahun yang lalu telah dibangun kembali, meski dengan lokasi yang berbeda, secara swadaya hasil gotong royong warga dan sumbangan orang-orang yang peduli. Studio ini saat ini dikelola oleh pemuda setempat .
Di musim seperti ini, di mana hujan tak kunjung datang, tanah Ripungan semakin keras. Pohon-pohon kering berdiri tanpa daun. Ladang dan kebun tak bisa ditanami saking kerasnya tanah. Air yang ada hanya bisa untuk kebutuhan sehari-hari. Extrajoss, Laki Berani Berkurban saya rasa sangat cocok untuk menggambarkan warga Ripungan yang meski dengan segala keterbatasannya tak pernah patah semangat.
Beberapa hari lalu saya dengan beberapa teman berkesempatan berkunjung ke sini dan melihat bagaimana warga bergotong-royong membantu salah satu warga yang sedang mengadakan hajatan nikah salah seorang putri mereka. Seadanya tapi tampak sekali raut syukur di wajah mereka, raut bahagia karena telah setidaknya berbagi beban, menyumbangkan yang dimiliki untuk membantu yang membutuhkan. Semangat gotong royong khas Indonesia yang akhir-akhir ini sepertinya semakin luntur dari negeri ini tak tampak di Ripungan. Mereka masih semangat, mereka masih suka berbagi, mereka saling membantu meski dengan kondisi yang serba terbatas. Dan saya rasa ini saatnya bagi kita berbagi harapan dan kebahagian bersama mereka dengan semangat Laki Berani Berkurban!
Ripungan,Bokoharjo, kecamatan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Vloger : Yuladi (0817464801)
email : yuladhi@gmail.com
twitter : @kouncoeng
Dua tahun terakhr ini di Ripungan berdiri sebuah studio kecil tempat bermain dan belajar yang dinamakan Studio Biru. Bangunan yang awalnya hanya sebuah gubuk reot berlantai tanah bekas tempat penampungan warga yang terkena gempa, setahun yang lalu telah dibangun kembali, meski dengan lokasi yang berbeda, secara swadaya hasil gotong royong warga dan sumbangan orang-orang yang peduli. Studio ini saat ini dikelola oleh pemuda setempat .
Di musim seperti ini, di mana hujan tak kunjung datang, tanah Ripungan semakin keras. Pohon-pohon kering berdiri tanpa daun. Ladang dan kebun tak bisa ditanami saking kerasnya tanah. Air yang ada hanya bisa untuk kebutuhan sehari-hari. Extrajoss, Laki Berani Berkurban saya rasa sangat cocok untuk menggambarkan warga Ripungan yang meski dengan segala keterbatasannya tak pernah patah semangat.
Beberapa hari lalu saya dengan beberapa teman berkesempatan berkunjung ke sini dan melihat bagaimana warga bergotong-royong membantu salah satu warga yang sedang mengadakan hajatan nikah salah seorang putri mereka. Seadanya tapi tampak sekali raut syukur di wajah mereka, raut bahagia karena telah setidaknya berbagi beban, menyumbangkan yang dimiliki untuk membantu yang membutuhkan. Semangat gotong royong khas Indonesia yang akhir-akhir ini sepertinya semakin luntur dari negeri ini tak tampak di Ripungan. Mereka masih semangat, mereka masih suka berbagi, mereka saling membantu meski dengan kondisi yang serba terbatas. Dan saya rasa ini saatnya bagi kita berbagi harapan dan kebahagian bersama mereka dengan semangat Laki Berani Berkurban!
–*–
Kontak person : Mas Arif (0856-4387-3025)Ripungan,Bokoharjo, kecamatan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Vloger : Yuladi (0817464801)
email : yuladhi@gmail.com
twitter : @kouncoeng
Langganan:
Postingan (Atom)


