Jumat, 19 Oktober 2012

Jogja, Never ending Paradise

Hujan rintik-rintik menyambut kami yang baru saja menapakkan kaki di tanah coklat pinggir lapangan, seberang pasar dusun NdakBong. Setelah kurang lebih 2,5 jam yang lalu beranjak dari jogja. Mulai melangkah meniti jalan desa yang basah, untung sebagian sudah dikeraskan sehingga beceknya tidak terasa, hanya sedikit licin jika kita berjalan tanpa alas kaki. Hujan semakin deras ketika kami sampai diperkampungan terluar menuju pantai, berteduh sejenak dirumah penduduk, silaturahmi dengan keluarga yang pernah menjadi malaikat pada perjalanan kami sebelumnya. Bertanya kabar, menikmati teh dan obrolan yang tak kalah hangat, tak terasa hujanpun mereda, meninggalkan tanah yang semakin basah dan semakin licin. Jalan berbatu mengiring langkah kami menuju tujuan yang pertama, Pantai Timang.
Sebuah pantai selatan dideretan timur Gunungkidul, berupa teluk kecil, pasirnya tidak putih, tidak juga hitam, cenderung coklat kemerahan. Masih sangat asri, bersih dan sunyi. disisi timur berdiri kokoh bukit karang yang menjorok kelaut, sementara di sisi barat dan utara dikelilingi tumbuhan pandan yang berduri tajam. Hanya ada jalan kecil disebelah barat, itupun harus merunduk dengan sangat hati-hati untuk melewatinya jika tidak ingin kulit kita tergores oleh duri-duri pandan. Menikmati debur ombak dan ricik air yang membelai pasir, tanpa ada yang menggangu,  serasa memiliki pantai sendiri.
Ada keunikan lain disini, disebelah barat pantai berpasir terbentang sebuah kereta gantung sederhana. bukan seperti kereta gantung yang ada di taman hiburan ditempat lain, kereta ini sangat sederhana, terbuat dari kayu dan hanya menggunakan tampar* sebagai pengait sekaligus lintasan kereta. Kereta ini biasa digunakan warga sekitaruntuk menyebrang ke sebuah batu karang besar dengan jarak kurang lebih 30m dari bibir pantai untuk sekedar memancing. Namun jika kita ingin menguji nyali kita, kita bisa mencobanya, tentusaja harus dengan dipandu oleh orang yang sudah biasa menggunakannya. Menurut penuturan warga setempat, akan banyak dijumpai penyu disekitar sini, terutama saat air laut sedang pasang.
Setelah puas menikmati kesunyian dan keindahan pantai Timang serta sedikit makan siang, perjalananpun berlanjut.  Mulai meniti jalan setapak menuju kebarat, bukan tanpa tujuan namun kita tidak punya target untuk perjalanan kali ini, sekiranya kaki masih kuat melangkah perjalananpun akan terus berlanjut. mendaki bukit, menuruni bukit, kadang memutarinya. Pemandangan yang disuguhkan sungguh menawan, tebing curam yang langsung menghadap kelaut. Sesekali berhenti untuk menikmati segarnya angin laut sembari menghela nafas yang ngos-ngosan.
Salah satu sudut pantai Selatan

Setelah kurang lebih  2,5 jam berjalan, sampailah kami pada sebuah bukit yang menjorok kelaut, ada batu besar diujungnya. dari atas batu ini kita bisa melepaskan pandangan kelaut lepas, samudera yang biru memenuhi pandangan kita, menghadap kebarat tebing-tebing-tebing indah terhampar, dan kearah utara sebuah pantai teluk kembali menarik perhatian kami, benar-benar asri, tak ada seorangpun disana jejak kakipun tak nampak berbekas dipasirnya yang lembut. Pantai dikelilingi bukit dan tebing curam, diujung dalam nampak bekas aliran sungai kecil yang mengering. Pantai yang indah, asri, dan sunyi tempat yang cocok untuk menenangkan diri.
Kamipun langsung menghambur turun, berebut untuk menjadi yang pertama menginjakkan kaki dipantai ini. Merebahkan badan dipasir putih,itulah hal pertama yang kami lakukan .Ternyata pantai ini bukan tak berpenghuni, ada sebuah gubuk kecil di sisi timur, ternyata milik penduduk setempat, sekedar tempat istirahat saat lelah bekerja dikebunnya. Dari sang pemilik gubuk inilah diketahui bahwa ini adalah Pantai Ngetun. Pantai ngetun dijaga oleh 5 Anjing manis milik warga, anjing ini yang menjaga gubuk saat ditingal pulang oleh sang pemilik.
Karena hari sudah mulai gelap, kamipun memutuskan untuk bermalam disini, mendirikan tenda darurat dari mantol(bivak), memasak air yang kami temukan disitu juga, kemudian menikmati secangkir kopi hangat , mengantar matahari menuju peraduannya.

Kamis, 18 Oktober 2012

Laki Berani Berkurban di Bukit Gersang

Ripungan adalah nama sebuah dusun kecil yang terletak di desa Bokoharjo, kecamatan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terletak di daerah perbukitan Batur Agung, Ripungan merupakan daerah tandus. Pohon-pohon meranggas, tanpa daun, juga tanah kering retak berdebu adalah pemandangan sehari-hari di dusun ini. Ripungan adalah dusun terdampak kekeringan. Mata pencaharian penduduk yang sebagian besar dari bertani dan berkebun sangat kontras dengan kondisi tanahnya yang kering, sulit ditanami. Pada tahun 2006 ketika gempa melanda Yogyakarta, Ripungan merupakan salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah.

Warga Ripungan bisa dibilang masih kurang tersentuh pendidikan. Tingkat pendidikan penduduk di sini masih rendah. Lokasi tempat belajar atau sekolah sulit dijangkau. Anak-anak harus menuruni bukit, berjalan kiloan meter untuk bisa sampai di sekolah. Anak putus sekolah bukan hal yang luar biasa di sini. Menikah setelah lulus sekolah tinggi juga sudah biasa. Bukan hanya kurang dalam pendidikan formal, dalam pendidikan non formal atau keahlian warga Ripungan juga masih rendah.
Dua tahun terakhr ini di Ripungan berdiri sebuah studio kecil tempat bermain dan belajar yang dinamakan Studio Biru. Bangunan yang awalnya hanya sebuah gubuk reot berlantai tanah bekas tempat penampungan warga yang terkena gempa, setahun yang lalu telah dibangun kembali, meski dengan lokasi yang berbeda, secara swadaya hasil gotong royong warga dan sumbangan orang-orang yang peduli. Studio ini saat ini dikelola oleh pemuda setempat .
Di musim seperti ini, di mana hujan tak kunjung datang, tanah Ripungan semakin keras. Pohon-pohon kering berdiri tanpa daun. Ladang dan kebun tak bisa ditanami saking kerasnya tanah. Air yang ada hanya bisa untuk kebutuhan sehari-hari. Extrajoss, Laki Berani Berkurban saya rasa sangat cocok untuk menggambarkan warga Ripungan yang meski dengan segala keterbatasannya tak pernah patah semangat.


Beberapa hari lalu saya dengan beberapa teman berkesempatan berkunjung ke sini dan melihat bagaimana warga bergotong-royong membantu salah satu warga yang sedang mengadakan hajatan nikah salah seorang putri mereka. Seadanya tapi tampak sekali raut syukur di wajah mereka, raut bahagia karena telah setidaknya berbagi beban, menyumbangkan yang dimiliki untuk membantu yang membutuhkan. Semangat gotong royong khas Indonesia yang akhir-akhir ini sepertinya semakin luntur dari negeri ini tak tampak di Ripungan. Mereka masih semangat, mereka masih suka berbagi, mereka saling membantu meski dengan kondisi yang serba terbatas. Dan saya rasa ini saatnya bagi kita berbagi harapan dan kebahagian bersama mereka dengan semangat Laki Berani Berkurban!
–*–
Kontak person : Mas Arif (0856-4387-3025)
Ripungan,Bokoharjo, kecamatan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Vloger : Yuladi (0817464801)
email    : yuladhi@gmail.com
twitter : @kouncoeng